DE JAVU

DE JAVU
            Menjadi sebagai seorang guru bukanlah profesi yang ku idam-idamkan sedari dulu, karena memang jurusanku berhubungan dengan bidang kesehatan, bukan pendidikan. Sedikit demi sedikit keinginan itu timbul setelah aku diterima di STKIP Al Hikmah Surabaya. Pada penghujung semester satu ini, seluruh mahasiswa diberikan tugas untuk mengabdi di TPQ, membina pramuka, dan KKN di sekolah asal mereka masing-masing, tepatnya pada tanggal 13 Januari 2018.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa, hari itu merupakan hari yang luar biasa bagiku, kembali ke sekolah asal dengan mengemban tugas sebagai seorang calon guru. Sekolah yang terletak di Jalan Pangeran Hidayatullah ini bernama SMK FARMASI, sekolah jurusan farmasi pertama di Kalimantan Timur ini telah berdiri sejak tahun 2007 dan jurusan keperawatan tahun 2010. Sekolah tersebut memiliki sembilan kelas dengan laboratorium di setiap jurusannya, yaitu farmasi dan keperawatan.
Sekolah tersebut secara tidak langsung telah berkontribusi banyak dalam kehidupanku, walaupun sangat bertolak belakang dengan apa yang aku lakukan saat ini. Memiliki kehidupan yang disiplin dan jujur merupakan sikap yang paling ditekankan di SMK FARMASI Samarinda, karena sikap disiplin dan jujur ialah pondasi awal bagi seluruh tenaga medis di dunia, terkhusus bagi siswa maupun alumni dari sekolah tersebut.
Banyak pengalaman yang saya dapatkan selama melakukan tugas KKN, selain terjun langsung kelapangan untuk sekadar membuka dan menutup pelajaran di kelas, aku juga bisa menambah kemampuan berkomunikasiku terhadap orang yang sudah ku kenal maupun belum.
Dengan berpakaian kemeja rapi, sepatu pantofel mengkilat, celana kain hitam, serta lengkap pula dengan dasi polos, aku melakukan tugas yang telah diemban padaku, membuka pelajaran di kelas. Aku tidak gugup, hanya sedikit sungkan bertemu dengan adik kelas, karena aku kembali ke sekolah itu dengan latar belakang yang berbeda dari sebelum aku merantau ke Kota Surabaya. Semuanya berjalan lancar ketika aku bertugas, mengucapkan salam, berdoa, memperkenalkan diri, berbasa-basi, mengenalkan materi, mengintegrasikannya dengan kehidupan nyata, lalu mengambil posisi di sudut kelas untuk menyimak guru pamongku memberikan materi.
Duduk di sudut kelas sambil memperhatikan dan menyimak Bu Khusnul (guru pamong) menjelaskan materi mengingatkanku pada beberapa bulan sebelum aku lulus dari sekolah itu, rasanya seperti kembali mengenakan seragam SMK FARMASI dengan sebutan sebagai siswa. Kejadian tersebut seolah benar-benar nyata, seolah-olah aku masih siswa dari sekolah tersebut, ditambah lagi dengan perasaan ingin pulang yang menyerang, perasaan khas seorang siswa ketika merasa bosan ataupun lelah ketika menerima pelajaran di dalam kelas.
Kejadian-kejadian yang pernah terjadi selama aku bersekolah di sana seolah-olah bisa kulihat kembali, sangat jelas, seolah dapat ku sentuh. Mulai dari datang memarkirkan kendaraan, bertegur sapa dengan guru yang melintas di depanku, menunggu bel masuk tanda dimulainya pelajaran, bercengkrama dengan teman di kelas, rasa bosan, rasa rindu dengan bel istirahat, berbelanja jajanan pinggir jalan, nasi campur Bu Asun, bau khas pentol bakar, jam kosong ketika guru berhalangan hadir, suasana ramai di parkiran ketika pulang sekolah, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Setelah dirasa cukup, Bu Khusnul menyisakan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit sebelum jam pelajaran Bahasa Indonesia berakhir untuk aku menutup pelajaran hari itu. Setiap setelah pelajaran berakhir, aku selalu meminta kepada guru pamongku untuk mengevaluasi semua kegiatan yang telah aku lakukan selama berada di kelas. Hal ini sengaja aku minta, agar kedepannya apa-apa yang aku lakukan semakin lebih baik dari sebelumnya.

Komentar

Postingan Populer