PENCETAK GENERASI BANGSA BERAKHLAK MULIA


PENCETAK GENERASI BANGSA BERAKHLAK MULIA

Pendidikan bisa disebut sebagai alat penyadaran massa, pendidikan dapat juga diartikan sebagai alat untuk merebut takdir sebagai bangsa yang bermartabat. Dalam melaksanakan proses pendidikan atau proses pembelajaran perlu adanya tenaga pendidik, dalam hal ini ialah guru. Secara umum guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri maupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah berdasarkan undang-undang guru yang berlaku di Indonesia. Guru memiliki peran khusus dalam mencerdaskan kehidupan dan membangun peradaban bangsa Indonesia di masa depan.
Tugas seorang guru bukan hanya menuntaskan kurikulum yang ada, lebih dari itu guru juga harus menanamkan nilai-nailai luhur bangsa ini. Pendidikan moral dan penanaman karakterlah yang dibutuhkan siswa dalam berkehidupan bermasyarakat, sebab itu guru dituntut untuk menjadi suri tauladan, contoh, serta panutan bagi mayarakat umumnya dan terkhusus bagi murid. Sejalan dengan tujuannya, tujuan seorang guru bukanlah membentuk siswa-siswanya menurut pandangannya, tapi mengembangkan siswanya yang mampu menciptakan pandangan mereka sendiri. Semua profesi yang ada berawal dari campur tangan guru dalam membentuk kepribadian dan karakter siswa, karena mimpi berawal dari seorang guru yang mempercayai siswa, yang menarik, mendorong, membawanya ke dataran tinggi, dan terkadang ia ‘menusuk’ siswanya dengan tombak tajam bernama ‘kebenaran’.
Ada pepatah mengatakan ‘guru itu digugu dan ditiru’.  Pada zaman dulu guru menempati kedudukan yang sangat tinggi karena memiliki jiwa yang besar, ilmu yang mempuni, dan karakter yang dimilikinya belum tentu dimiliki oleh orang selain guru. Tapi saat ini, dalam dunia nyata yang relevan posisi guru sebagai orang yang patut dihormati dan dihargai kini mulai memudar dalam pandangan kacamata masyarakat. Seni yang hilang bukanlah mengajar, melainkan tradisi menghormati dan menghargai seorang guru. Ada proses degradasi dalam fungsi guru sebagai pendidik, imbas paling mencolok yang bisa kita rasakan saat ini ialah hilangnya penghormatan siswa terhadap guru.
Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa penyelenggara pendidikan wajib memegang prinsip demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Sangat disayangkan melihat fenomena saat ini dimana sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi sesuatu hal yang menakutkan, berbagai kasus kekerasan tekah mencoreng nama baik dunia pendidikan. Banyaknya guru yang berurusan dalam ranah hukum membuat munculnya persepsi negatif terhadap guru, beberapa berpendapat guru hanya terkesan kurang loyal dan sekadar formalitas dalam mengajar, akhirnya profesi mulia sebagai seorang guru lambat laun semakin direndahkan, tidak dihargai, dilecehkan, dikucilkan, dan yang memperkeruh suasana ialah murid dan wali murid sendirilah yang melakukan itu semua. Ironisnya murid di bawah umur yang melakukan kesalahan berat dilindungi oleh Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA), akibatnya banyak anak pintar tapi sikap dan perilakunya kurang baik, jumlah kenakalan remaja semakin meningkat dan semakin mengkhawatirkan, bahkan sudah masuk ke dalam kategori kriminalitas, seperti mencuri, merampok, menganiaya, memperkosa, bahkan sampai membunuh.
Orang tua yang seharusnya berterima kasih atas didikan guru terhadap anaknya, kini menjelma menjadi lawan. Akibatnya kewibawaan dan kepercayaan diri seorang guru akan tergerus sedikit demi sedikit hingga habis, lalu hilanglah sudah harapan dan kemauan untuk mencerdaskan anak bangsa. Ini merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia terkhususnya bagi daerah yang bersangkutan.
Dengan kondisi yang mulai berubah, akhirnya guru menjadi segan dalam menegakkan kedisiplinan. Pada akhirnya guru hanya bertugas untuk menuntaskan kurikulum yang telah ada, tanpa tahu apakah peserta didik telah paham dan mampu atas materi pelajaran yang telah diberikan oleh guru tersebut. Peranan media televisi terhadap perkembangan anak juga memegang peranan penting, Televisi telah memengaruhi anak di rumah saat sebelum masuk sekolah, bahkan semenjak balita. Adegan yang tak patut dicontoh dalam suguhan tayangan televisi nasional seperti melakukan tindakan kekerasa merupakan salah satu pemicu anak melakukan tindakan kurang terpuji.  Maraknya kejadian kekerasan yang terus dikonsumsi oleh siswa, alhasil akan membuat penanaman sikap budipekerti dan nilai-nilai karakter positif yang diajarkan di sekolah hanyalah sia-sia belaka, karena tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan rumah.
Banyak kasus beredar mengenai siswa yang berani melawan gurunya telah beredar di masyarakat luas. Berita tersebut tentu saja sangat meresahkan dunia pendidikan, masyarakat luas, orang tua, peserta didik, terlebih pada guru. Berbagai macam karakter yang telah ‘ditelan’ siswa melalui televisi merupakan tantangan terbesar bagi guru untuk menghadapi itu semua, mulai dari siswa yang bersifat pemberontak atau juga pembuat onar. Jika guru terus ‘melawan’ atas perbuatan siswa tersebut maka masalah tidak akan selesai.
Persoalan seperti ini, perlu diberikan solusi secara cepat dan tepat. Bila tidak, lambat laun akan menjadi salah satu penyebab kemunduran kualitas generasi penerus dan pendidikan. Tantangan dunia pendidikan negara Indonesia di masa depan ialah semakin cepatnya perubahan sosial yang terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia yang berujung pada krisis moral. Ada beberapa kiat yang dapat dilakukan guru ketika menghadapi masalah serupa.
            Pertama, memberikan sedikit kelonggran terhadap aturan yang diberikan, namun tetap pada batas wajarnya. Hal ini mungkin terkesan mendukung perbuatan negatif siswa tersebut, tapi komitmen guru untuk mendapatkan perhatian siswa merupakan hal terpenting, serta tetap terus saling menghormati tanpa ada merugikan pihak yang lain.
            Kedua, melakukan pendekatan. Selain berinteraksi langsung dengan siswa yang bersangkutan, orang tua juga berperan menjadi jalur utama dalam berhubungan dengan siswa. Banyaknya siswa yang bermasalah di lingkugan keluarga mereka, mampu di baca melalui tanda-tanda pada raut wajah siswa. Menjadi sosok yang selalu ada ketika siswa tersebut membutuhkan, serta dekati secara perlahan kedua orang tuanya guna menggali informasi yang terjadi merupakan langkah tepat bagi guru. Ceritakan pula pada orangtua ketika terdapat perkembangan positif yang telah dilakukan siswa semasa di sekolah, dengan begitu orang tua akan lebih terbuka untuk bekerjasama dengan guru. Dengan adanya kedekatan, guru dapat mengenal karakter dari siswa dan dapat mengambil langkah tepat untuk memperbaiki perilaku peserta didik.
            Ketiga, pemecahan masalah. Guru pastilah akan memilih untuk menghindari atau mungkin mencegah terjadinya kekerasan yang dilakukan di dalam kelas. Siswa kadang merasa dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, yang membuat siswa untuk mencari perhatian dengan perbuatan negatif. Guru perlu mewujudkan komunikasi dengan siswa yang berperilaku buruk, lalu tunjukkan bahwa guru tetap menghargai dan tidak serta-merta menuduh siswa adalah anak nakal. Berdiskusilah dengan bijak dan intens tentang apa yang telah diperbuat oleh siswa, lakukan pengontrolan dan pengawasan yang baik terhadap siswa. Jadilah pendengar yang baik, sampaikan segala sesuatu pada siswa dengan kalimat positif, dengan begitu siswa akan tersentuh hatinya dan paham bahwa apa yang dilakukannya merupakan perbuatan yang salah.
            Keempat, pemberian tugas atau tanggung jawab guna meningkatkan kepercayaan diri yang lebih pada peserta didik. Pemberian tugas seperti ini dapat dimulai pada hal-hal kecil untuk menumbuhkan benih awal kepercayaan diri. Jika siswa telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dan benar, jangan ragu untuk memberikan pujian ataupun hadiah atas kinerja siswa.
            Semua hal tersebut perlu didukung dengan komitmen penuh dan pengevaluasian dari guru yang bersangkutan. Guru juga perlu lebih banyak bercermin untuk melihat lebih dalam pada dirinya tentang interaksi, cara belajar, dan sikapnya terhadap siswa selama proses belajar mengajar di sekolah. Guru bukanlah satu-satunya orang yang berkewajiban atas semua kejadian tersebut. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama dari segala lapisan, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat, guna membentuk sikap tanggung jawab bersama menghasilkan generasi bangsa yang berakhlak mulia.

Komentar

Postingan Populer